Jumat, 07 Oktober 2011

Balon Udara HUT ke-83 Katedral untuk Pujiono

balonUltah Paroki katedral ke 83 dan pesta pelindung paroki, Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci dirangkai dalam aneka kegiatan. Donor darah lintas agama digelar pada hari Minggu, 2 Oktober 2011 mulai pukul 08.00 hingga 15.30. Prediksi 500 orang memang tidak tercapai, namun tanggapan umat dan masyarakat sangat menggembirakan. Ada 300an orang yang mendaftar, namun yang bisa diambil darahnya 180an orang.



Acara pembukaan diisi dengan doa dan sambutan Pastor Kepala serta pelepasan balon udara berhadiah uang Rp. 830.000. Balon udara ini akhirnya 'jatuh' di daerah Ngaliyan - kampung Gondoriyo di hutan jati milik Perhutani Gondoriyo. Ditemukan oleh Keluarga Bp. Supatman, Selasa pukul 17.00 di parit hutan jati Gondoriyo dekat rumahnya. Hari Rabu, 5 Oktober keluarga ini telpon ke sekretariatan untuk memastikan mengenai kebenaran info dari kertas di balon udara itu. Akhirnya pukul 12.00 Bapak Supatman datang ke Gereja disertai istri dan anak keduanya yang berusia dua tahun bernama PUJIONO. Doa kita pada waktu melepas balon, semoga balon dan hadiah ini nantinya jatuh pada orang yang memang memerlukan. Ternyata betul, Tuhan menganugerahkan hadiah uang Rp. 830.000 ini untuk keluarga yang memerlukan. Pujiono, anak kedua dari pasutri ini sejak lahir mengalami keterbatasan, yakni tidak punya hidung. Nafas sering tersengal-sengal dan harus didukung dengan minum susu. Kalau pas sesak nafas (karena sarana pernafasan hanya melalui mulut), sampai tersengal-sengal dan memberi efek pada mata maupun pada kemaluannya (hernea).

pujiono-penerima-hadiah-balon-hut-83-katedral-semarang

Keluarga Bapak Supatman sangat bersyukur untuk hadiah ini. Harapan lebih lanjut, keluarga ini dapat membawa PUJIONO untuk dioperasi (sebagaimana anjuran dari Rumah Sakit Kariadi, untuk bisa menjalani operasi setelah usia 2 tahun). Keluarga ini memerlukan bantuan untuk biaya hidup sehari-hari, juga nantinya untuk operasi PUJIONO. Anak pertama pasangan ini bernama Agus, sudah kelas 4 SD, anaknya cerdas dan perhatian untuk mengasuh adiknya. Pekerjaan pokok Bapak Supatman menjadi sopir truk dan 'samben' mengolah tanah garapan dari hutan jati milik Perhutani di Gondoriyo untuk ditanami singkong. Istri pak Supatman tidak bekerja, karena harus memberi perhatian ekstra untuk PUJIONO. "Berbagi berkat Menopang Kehidupan" telah nyata mengena untuk keluarga Bp. Supatman khususnya untuk membantu PUJIONO yang sakit sejak lahirnya.

FX. Sukendar W, Pr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar